BOYOLALI – Suasana khusyuk dan penuh penghayatan terlihat
saat warga binaan pemasyarakatan (WBP) beragama Kristen dan Katolik Rumah
Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Boyolali mengikuti kegiatan pembinaan
kerohanian di Aula Rutan Boyolali, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan Rise Shine
Ministry (RSM) tersebut menjadi ruang bagi warga binaan untuk menjalankan
ibadah sekaligus memperoleh penguatan iman dan nilai-nilai spiritual selama
menjalani masa pidana.
Para WBP mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib,
mulai dari ibadah bersama, penyampaian firman Tuhan, hingga pesan-pesan
penguatan rohani. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan ketenangan
batin sekaligus menjadi sarana refleksi bagi warga binaan dalam menjalani
proses pembinaan.
Bagi warga binaan, pembinaan kerohanian tidak hanya menjadi
bagian dari pemenuhan hak menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi salah satu
sarana untuk membangun kesadaran diri dan mendorong perubahan perilaku. Melalui
nilai-nilai keagamaan yang diterima, WBP didorong untuk memperbaiki diri,
membangun sikap bertanggung jawab, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke
tengah masyarakat.
Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto,
mengapresiasi dukungan Rise Shine Ministry yang selama ini turut berperan dalam
pelaksanaan pembinaan kerohanian bagi warga binaan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Rise Shine Ministry
yang terus mendukung pembinaan kerohanian di Rutan Boyolali. Kehadiran para
pelayan dari RSM memberikan ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan penguatan
iman dan menjalani proses pembinaan dengan lebih baik. Semoga sinergi ini dapat
terus berjalan dan memberikan manfaat bagi warga binaan,” ujar Ervans.
Menurutnya, pembinaan kepribadian melalui pendekatan
keagamaan memiliki peran penting dalam proses pemasyarakatan. Penguatan moral
dan spiritual diharapkan dapat membantu warga binaan membangun pola pikir dan
sikap yang lebih positif selama berada di dalam Rutan.
“Harapannya, setiap warga binaan dapat memanfaatkan setiap
kegiatan pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan dan
mempersiapkan diri sebelum kembali kepada keluarga serta lingkungan
masyarakat,” lanjutnya.
Rutan Boyolali terus membuka ruang kolaborasi dengan
berbagai pihak, termasuk lembaga keagamaan, untuk memberikan pembinaan yang
humanis dan inklusif. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, warga binaan
diharapkan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal
untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat
bagi masyarakat. (sg)
